Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Makanlah tahu sebelum bedah jantung!

oleh : Brigitta Widawati

Tahu dikabarkan mampu menekan terjadinya komplikasi pada mereka yang habis menjalani bedah jantung. Penelitian baru pada binatang menunjukkan bahwa kandungan yang menyerupai estrogen pada kedelai bisa menekan risiko sejumlah komplikasi umum bedah jantung terbuka. "Kita sudah membuktikannya dalam penelitian-penelitian sebelumnya bahwa estrogen bisa melindungi jantung selama bedah jantung terbuka. Dan sekarang efek serupa yang ditimbulkan oleh fitoestrogen pada kedelai kembali terbukti," papar salah satu peneliti David Gross, yang adalah ahli fisiologi dari University of Illinois College of Veterinary Medicine. Fitoestrogen merupakan zat tumbuhan yang bertindak menyerupai estrogen alami yang sangat lemah pada manusia.

Gross menuturkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana zat-zat tersebut melindungi jantung sehingga dari sini bisa dikembangkan obat-obatan yang bisa menggenjot efek positif estrogen tanpa menimbulkan efek merugikan pada bagian-bagian tubuh lainnya. Estrogen dikaitkan dengan lonjakan kanker payudara dan rahim. "Kendalanya dari kedelai adalah, seperti zat alami lainnya, efek pada manusia yang sulit dipastikan, sementara obat yang akan dihasilkan bisa memberi hasil yang konsisten yang dibidikkan pada suatu wilayah tertentu," papar Gross. Kalangan ahli jantung menilai penelitian ini menjanjikan tapi meragukan apakah hasil pada binatang akan sama pada manusia. "Saya pikir ini merupakan penelitian bermanfaat dan tepat, hanya sayangnya, ada faktor-faktor dalam penelitian yang pas untuk binatang namun tak perlu melakukan bedah jantung terbuka pada manusia. Jadi sekarang ini, baru ada sedikit keyakinan untuk menyimpulkan bahwa makan kedelai bisa melindungi jantung selama pembedahan," ungkap Dr. Edmund Herrold, asisten dosen di Weill Medical College of Cornell University.

Penelitian ini menggunakan tikus betina yang dibagi dalam lima kelompok, yang rahim dari kesemuannya sudah diangkat untuk menghentikan produksi estrogen. Sejak tiga bulan sebelum dilakukan bedah jantung, kelompok tikus yang pertama diberi asupan diet yang kaya akan protein kedelai dan isoflavone, suatu komponen fitoestrogen kedelai yang menyerupai estrogen manusia. Kelompok tikus yang kedua diberi diet serupa tapi diberi obat untuk memblokir efek estrogen. Kelompok ketiga diberi diet yang kaya akan kedelai tapi kurang mengandung fitoestrogen. Kelompok keempat mendapat diet yang bebas dari fitoestrogen sementara kelompok kelima mendapatkan diet normal yang tidak mengandung kedelai maupun fitoestrogen. Setelah tiga bulan, dilakukan prosedur yang meniru bedah jantung terbuka pada tikus-tikus tersebut: jantung diangkat, aliran darah dihentikan selama 30 menit, dilanjutkan dengan pemasukkan darah pengganti. Jantung itu selanjutnya dihidupkan lagi dan dibiarkan berfungsi selama 2 jam.

Tikus yang makan kedelai yang kaya akan fitoestrogen menunjukkan hasil yang terbaik, dengan tingkat komplikasi pasca operasi menurun tajam, termasuk pembengkakan jaringan jantung. Kelompok tikus ini juga memiliki kadar aliran darah jantung yang lebih sehat secara keseluruhan. Sementara empat kelompok yang lainnya mengalami kerusakan khusus pada jantung sama dengan manusia yang menjalani bedah jantung terbuka, ujar Gross. "Jelaslah bahwa tikus yang mendapatkan diet kedelai yang kaya fitoestrogen menunjukkan hasil yang lebih baik, yang senada dengan penelitian sebelumnya mengenai efek perlindungan dari estrogen pada jantung selama dan setelah bedah jantung," tandas Gross.

Namun Herrold mengemukakan bahwa sejumlah kriteria yang digunakan dalam penelitian tidak dapat diterapkan dari binatang mengerat ke manusia. "Selama bedah jantung terbuka pada manusia, jantung dihentikan jauh lebih lama dari 30 menit, dan ketika jantung dihidupkan kembali, maka tidak digunakan darah tiruan melainkan darah sungguhan," ungkap Herrold. Selain itu, waktu penelitian jantung selama 2 jam pasca operasi tidak cukup untuk menghasilkan dokumen mengenai hasil terakhir. "Tidak diketahui apakah akan muncul permasalahan yang serupa dengan kelompok tikus yang lainnya setelah 2 jam kemudian atau bahkan akan muncul; permasalahan yang lebih buruk. Hingga kini belum diketahui secara pasti," tegas Herrold.

Namun menurutnya, kalaupun terapi kedelai/estrogen bisa sedikit mendongkrak kesembuhan dalam hitungan jam setelah operasi, itu seimbang dengan usaha lewat perubahan pola makan." Gross dan timnya mengemukakan rencananya untuk memperluas penelitiannya untuk menemukan jawaban pertanyaan yang diajukan Herrold dan, mereka mengaku yakin jawabannya nanti bisa menyelamatakan nyawa manusia. Namun kalangan peneliti menganggap terlalu dini untuk menyatakan diet kedelai yang kaya akan fitoestrogen bisa membuat hidup berbeda. Namun mereka mengamini banyak makan kedelai banyak bermanfaat dan bahwa hingga kini kecil bukti yang menunjukkan adanya efek yang merugikan.

Sumber :Berbagai Sumber